Strategi Mendisiplinkan Anak 2 Tahun Tanpa Kekerasan

Doodle.co.id – Mendisiplinkan anak 2 tahun menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para orang tua, terlebih bagaimana melakukan hal itu tanpa kekerasan, berteriak, bahkan yang membuat Si Kecil trauma. Pada usia 2 tahun, diketahui anak sedang berkembang dan menggunakan keterampilan motoriknya. Hal ini tentu menguji batas kemampuan anak seperti berlari, melompat, melempar dan memanjat. Anak usia 2 tahun juga cenderung egois, mudah mengamuk, tidak suka berbagi hingga merasa frustasi saat tidak bisa menyampaikan apa keinginan atau yang ia maksud.

mendisiplinkan anak 2 tahun
Strategi untuk mendisiplinkan anak 2 tahun tanpa kekerasan / Image Tatiana Syrikova

Menerapkan disiplin efektif merupakan salah satu tugas tersulit bahkan membuat frustasi, namun ini justru memberi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Metode pendisiplinan anak pada jaman dahulu biasanya mencakup hukuman fisik seperti memukul, namun kini banyak orang tua yang lebih tertarik menggunakan metode yang lebih lembut dan positif.

Menurut American Psychological Association, metode disiplin positif ini selain efektif juga membantu orang tua dan anak mengelola emosi, komunikasi hingga harga diri dan rasa percaya diri pada keduanya. Disiplin positif ini termasuk dalam mengelola sikap anak 2 tahun yang cenderung agresif seperti memukul, sikal berbahaya seperti berlari ke jalan, hingga sikap yang tidak pantas termasuk membuang makanan. Tidak hanya itu, dengan adanya disiplin positif ini dapat memberikan rasa tenang pada orang tua serta membantu pertumbuhan balita.

American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan, strategi disipliner yang efektif dengan perkembangan mampu mengelola keterampilan fungsi kognitif, sosioemosional dan eksekutif, hingga regulasi emosional dan perilaku anak. Selain itu, balita yang didisiplinkan secara positif juga mendapatkan tindaklanjut atas konsekuensi yang dilanggar. Berikut strategi mendisiplinkan anak 2 tahun dengan cara positif dan tanpa kekerasan.

Strategi Mendisiplinkan Anak 2 Tahun

1. Pilih Pertarungan Moms dan Si Kecil

Tetapkan batasan yang sesuai dan penting bagi Moms, berikan juga konsekuensi yang sesuai dengan apa yang telah dilanggar Si Kecil. Jangan takut untuk mengatakan tidak pada anak, karena jika selalu dituruti anak akan bersikap manja.

Menurut Anna Lucca dari Washington, D.C, saat anak ketahuan melakukan kesalahan dan membuat kamar tidurnya berantakan, alih-alih mencoba menangkap basah aktivitas anak, ia justru menyuruh anaknya membersihkan segera setelah tidur siang. Kemudian, untuk menyeimbangkan keadaan, Moms bisa memuji anak saat ia melakukan sesuatu dengan baik.

2. Ketahui Pemicu Anak

Berbagai perilaku buruk dapat Moms cegah apabila mengetahui pemicunya. Jangan lupa untuk membuat rencana permainan terlebih dahulu sebelum mengatasi hal tersebut.

3. Lakukan Praktek Pencegahan

Menurut Harvey karp, M.Dm penulis buku klasik parenting The Happiest Toddler on Block, apabila anak cenderung energik dan gembira di pagi hari, tetapi merasa lelah dan mudah tersinggung usai makan siang, buatlah aktivitas yang menarik. Moms bisa ajak anak untuk berjalan-jalan sekedar ke toko, minimarket, atau kunjungan ke dokter di pagi hari saat ia dalam kondisi terbaiknya.

Berikan pengalaman baru untuk anak, jelaskan bagaimana Moms mengharapkan Si Kecil untuk setiap tindakannya. Langkah ini mungkin akan sulit bagi beberapa anak, maka berilah waktu untuk ia dapat menyesuaikan diri dengan transisi tersebut di masa mendatang.

“Dalam beberapa menit kita harus mengambil mainan dan bersiap untuk pulang,” kalimat tersebut dapat menjadi referensi untuk mencegah anak kemungkinan mempermasalahkan perubahan, ini juga membuat anak merasa lebih siap untuk melakukan hal lain.

4. Bersikap Konsisten dan Tidak Terpengaruh

Para ahli di Havard Medical School menegaskan pentingnya konsisten seperti sebuah batas anatara apa yang diperbolehkan dan yang tidak, serta konsekuensi apa yang akan anak dapatkan saat mereka melanggar hal itu.

“Antara usia 2 dan 3 tahun, anak-anak bekerja keras untuk memahami bagaimana perilaku mereka berdampak pada orang-orang di sekitar mereka,” ucap spesialis perkembangan anak Claire Lerner, LCSW, penulis buku Why Is My Child in Charge?.

Perlu diingat, Moms harus bersikap netral terutama saat berhadapan dengan balita yang selalu ingin tahu banyak hal. Teguhkan sikap Moms meski anak terlihat menggemaskan, namun Moms tetap harus meresponnya dengan tenang dan tegas.

5. Hindari Bersikap Emosional

Menyikapi balita yang kerap memancing amarah orang tua tentu sangat menguras emosi bahkan membuat frustasi. Namun, tahanlah keinginan Moms untuk meninggikan suara dan bersikap emosional.

The Child Mind Institute menjelaskan bahwa ketika orang tua berteriak, mungkin anak-anak akan fokus pada nada suara bukan pada apa yang orang tua ingin katakan. Teriakan yang terus menerus ditujukan pada anak, dalam jangka panjang akan merusak harga diri mereka. Ubahlah mindset dari mengendalikan anak menjadi mengendalikan situasi, seperti saran Dr. Berger.

“Anda mungkin perlu sedikit menurunkan ekspektasi Anda terhadap kesabaran dan pengendalian diri mereka,” kata Dr. Berger.

Saat anak mulai bertingkah, tarik nafas dalam-dalam, hitung hingga tiga, dan turunkan tubuh setinggi mata anak Moms. Bicaralah dengan tegas dan jelaskan secara singkat apa yang sebenarnya Mom inginkan.

6. Dengarkan dan Ulangi

Validasi perasaan mereka dnegan mendengarkan dan lebih memahami kekhawatiran anak. Moms juga dapat menyiapkan solusi atas apa yang membuat anak merengek, tentu dengan tegas dan tenang. Dengan hal ini, anak akan merasa lebih baik dan dingerkan.

7. Fokus pada “Apa yang boleh dilakukan” dan “Yang tidak boleh dilakukan”

Anak usia 18 bulan disebut belum mempunyai kemampuan kognitif untuk emmahami kalimat kompleks, meski anak usia 2 sampai 3 tahun mampu memahami bahasa jauh lebih baik. Maka dari itu, apabila Moms mencoba berunding dengan anak saat mereka melanggar aturan, dan memberi penjelasan mungkin ini tidak efektif untuk anak usia 2 tahun. Pendekatan yang disebut berbicara secara terbuka ini kurang efektif jika diterapkan dibanding menjadi terlalu emosional.

Sebagai gantinya, Moms harus langsung memberikan tindakan yang tenang dan lembut, misalnya memegang tangan anak yang terus memukul. Atau saat anak menyikat gigi namun ia terus bermain-main, Moms bisa gunakan pilihan ini “Gigimu perlu disikat. Kamu bisa menyikatnya sekarang atau lima menit lagi.”

8. Tawarkan Pilihan

Jika anak menolak sesuatu, tawarkan serangkaian pilihan lain yang lebih terbatas dan spesifik. Permasalahan biasanya adalah ada pada kendali Moms, jangan khawatir dan langkah ini bisa meminimalisir konflik yang sedang terjadi antara anda dan Si Kecil.

9. Perhatikan Kata-kata Moms

Pastikan nada bicara dan perkataan Moms baik, bukan yang menyiratkan bahwa Moms tidak lagi mencintai Si Kecil. Daripada mengatakan, “Kamu tidak bersikap baik karena kamu tidak mau berbagi mainan dengan sahabatmu,” cobalah berkata, “Aku tahu sulit berbagi mainan yang kamu sukai. Maukah kamu berbagi mainan secara bergiliran dengan temanmu?”

10. Ajarkan Empati

Fokuslah untuk mengajarkan anak rasa empati, yang nantinya akan membantu ia dalam berperilaku dan berdampak langsung pada orang lain. Buat ia memikirkan tentang konsekuensi dari apa yang akan ia lakukan terlebih dahulu.

11. Pikirkan Kembali Time-Out dan Singkirkan Sesuatu Pemicu Konflik

Alih-alih mengisolasi anak dan mengurungnya di kamar, atau mengambil sesuatu yang menyebabkan konflik justru hal itu hanya akan menghilangkan hak istimewa anak. Moms bisa memberikan hal-hal penyebab konflik seperti pedang mainan misalnya, dengan batas waktu. Awasi anak Moms dan ambil pedang mainan tersebut setelah beberapa menit untuk menunjukkan bagaimana menggunakannya dengan aman tanpa melukai orang lain.

12. Komunikasikan Tentang Pilihan

Apabila Moms ingin anak berhenti bersikap agresif terhadap orang lain, tawarkan cara yang aman untuk mengekspresikan perasaannya. Dengarkan ide-ide anak dengan pikiran terbuka, bicarakan konsekuensi atas pilihannya.

13. Hadiahi Perilaku Baik

Normal bagi anak-anak untuk tidak menaati apa yang Moms katakan, ini tentu diluar kendali. Namun, saat anak menuruti perkataan Moms, dan bertindak atau berperilaku baik, maka berikan ia hadih kecil. Hadiah ini tidak harus istimewa, misalnya beri sepotong cokelat untuk Si Kecil saat ia berhasil membereskan mainannya. Pujilah anak Moms dengan bijaksana agar ia merasa istimewa.

14. Tetap Positif

Jangan pernah melampiaskan rasa frustasi Moms di depan anak kecil, bagaimana pun kelakuan buruknya. Alih-alih membicarakan hal buruk di depan anak, lebih baik datangi dokter anak, minta dukungan dan nasihat dari orang tua dan pasangan atau bahkan teman Moms untuk mengatasi rasa frustasi tersebut.

Sumber

parents.com/ toddlers-preschoolers/discipline/tips/7-tips-for-disciplining-your-toddler/

 

Temukan Produk Doodle Exclusive Baby Care di Official marketplace kami

         

@ 2021 Doodle | Terdaftar pada Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual Republik Indonesia
© 2021 Doodle | Terdaftar pada Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual Republik Indonesia.
                                                           Privacy Policy     Syarat dan Ketentuan  Cookie